Beranda » Otomotif » Satria FU Tahun 2008, Si Playboy di Trek Lurus

Satria FU Tahun 2008, Si Playboy di Trek Lurus

Dilihat 5.365x | Tags Otomotif,

Satria FU Tahun 2008, Si Playboy di Trek Lurus Oktober 2019

Salah satu momok didunia balap trek lurus, baik resmi ataupun non-resmi yaitu motor garapan bengkel HDS Motor yang digawangi Hawadis, yang beralamat di Jl. Swatirta/Bakti No. 28, Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakut. Garapan populer kencang serta yang pasti susah ditaklukkan.

Suzuki Satria FU berwarna putih yang mempunyai julukan ‘Playboy’ ini satu diantaranya. Motor punya Wendel Toar, berdasar sebagian pelaku balap masih tetap susah ditaklukkan. Ingin tahu rahasianya? Hawadis ingin berbaik hati membukanya, lo.

Pertama membuncitkan kemampuan mesin. Piston bawaan yang diameternya cuma 62 mm digusur gunakan punya Yamaha Scorpio (70 mm). Pemasangannya pasti perlu pergantian boring serta membesarkan mulut crank case.

Lantas stroke dinaikkan hingga 72 mm, dari standarnya yang cuma 48, 8 mm. Layak bila paking blok sangatlah tidak tipis, seputar 1 cm. Langkah naikin stroke-nya bagaimana? “Pakai setang seher RX-Z, ” jelas Hawadis. Harga Satria FU

Penentuan setang piston RX-Z karena diameter pen big end kecil. Hingga pemasangan di daun kruk as dapat lebih keluar, bekasnya ditutup gunakan las. Maka dari itu stroke dapat dinaikkan optimal. Dengan gabungan itu, jadi isi silinder jadi 276, 9 cc!

Agar pasokan bahan bakar serta pem­buangan bekas pembakaran semakin lancar, klep juga di besarkan. Kombinasinya in 24 mm, out 22 mm. Pemasangan pasti perlu penggeseran pojok klep. Tidak lupa dikerjakan porting & polish.

Penyuplai bahan bakar sendiri gunakan Keihin PE 28 yang di-reamer mentok sampai 32 mm! Hingga bagian-bagian luar harus ditambal lem. Spuyernya ketemu 55 serta 135. Pelepas gas buang pasti tentukan yang free flow, gunakan merk HDS.

Yang khusus menurut Hawadis, pe­makaian magnet serta sepul Yamaha YZ 125 yang populer mudah. Tetapi anehnya meski sepul terpasang, namun masih tetap gunakan system DC. “Sepul cuma pajangan, hahaha…, ” kelakarnya. Masih tetap menurut dia, penggunaan magnet enteng bagus di putaran bawah, atasnya bakal kedodoran.

Maka dari itu, karena seringkali turun di trek panjang (800 m), perlu penyesuaian. “Pertama kompresi janganlah terlampau tinggi, cukup 13, 8 : 1. Ke-2 LSA noken as dibikin kecil, cukup 102º, setelah itu timing pengapian dimainkan, ” katanya.

Timing dapat dibanderol sesuka hati lantaran CDI gunakan BRT jenis I-Max. Tersebut sedikit contekannya, pada 3 ribu rpm 35º, 7 ribu 40º, 10 ribu 39º, 13 ribu turun lagi jadi 37º saat sebelum TMA. Oh ya, koil juga gunakan punya YZ 125.

Paling akhir rasio dimainkan di gigi 3 serta 4. “Dibikin lebih rapat dengan atas bawahnya, ” tutup Hawadis. Sayang angkanya berapakah, mekanik yang suka gunakan sarung saat mengorek motor ini mengakui tidak hafal.



Data Modifikasi

Magnet : Yamaha YZ 125
CDI : BRT I-Max
Koil : Yamaha YZ 125
Sokbreker : YSS
Cakram : Suzuki RGR
Footstep : Yoshimura
Setang : LHK
Pelek dpn-blkg : TK 1,20 x 17
Ban dpn-blkg : HUT 50/80-17, 60/80-17
Knalpot : HDS


Keywords : Satria FU Tahun 2008, Si Playboy di Trek Lurus,